Ini adalah Blog Pribadi Ku , Jadi Selamat Menjelajah di Blogku. Dan Semoga Bermanfaat.

Kisah mengharukan ”Nenekku pahlawanku..”

Tubuhnya yang kurus dan
mukanya yang berkeriput serta
mulutnya yang mengeluarkan
suara lirih itu terus bercerita
dengan ciri khasnya agar bisa
membuatku tertidur lelap,
meskipun tangan kanannya kerap
kali mengelus-elus rambutku yang
baru saja tumbuh. Malam itu
begitu dingin, dan hujan turun
lumayan cukup deras sampai petir
menyambar berulang kali hingga
mata kecilku ini begitu susah
untuk memejamkan mata lantaran
aku sangat takut sekali dengan
cuaca malam itu. Namun ucapan
nenek membuatku lebih berani
dari apa yang kutakutkan,
”Jangan takut, cu ? Nenek ada di
sampingmu.”
Keesokan harinya, Cuaca begitu
cerah tapi nenek tidak ada
dirumah, Aku menangis
memanggil-manggil tapi nenek
tidak menyahutnya, Aku berlari
keluar rumah, ternyata nenek
tidak mendengarnya karena saat
itu beliau sedang mencari kayu
bakar dan tidak mengajakku,
maklum dulu kami hanya tinggal
berdua di desa yang lokasinya
seperti pinggiran hutan, Aku tak
tahu keberadaan ayah dan mama
ku ada di mana, Sementara
dengan tubuhku yang berukuran
bocah ini harus menjadi benalu
bagi nenekku sendiri. Aku
menangis histeris berharap nenek
cepat pulang dan memanggilku
segera. Tiba-tiba Dari kejauhan,
Aku mendengar suara nenek
dengan menggendong seikat
kayu bakar yang di taruh di
punggungnya. ”Uaaaaa, Uaaa...
Nenek jahat-Nenek Jahat,” Begitu
makiku sewaktu nenek
menghampiriku. ”Iya, Maafin
nenek cu, nenek gak aja kamu,
kan kamu lagi sakit flu,” Kata
nenek mencoba menenangkan
tangisanku.
Saat aku berumur 7 tahun, Nenek
memeberikanku baju yang sangat
besar sebagai hadiah ulang
tahunku meskipun baju yang
diberikannya tidak begitu bagus
di mataku dan tidak begitu cocok
dipakai di badan kecilku, tapi baju
itu adalah baju pemberiannya dari
hasil kerja kerasnya menjual kayu
bakar selama 2 tahun. ”Terima
kasih, nek ..!” Balasku dengan
sebuah kata kecil yang membuat
mataku menjadi berlinang.
”Kenakan baju itu di saat kamu
remaja dan jaga baik-baik baju itu
seperti nenek menjagamu
sekarang,” Kurang lebih begitulah
perkataan nenek ketika
memberikannya.
Di saat aku berusia 17 tahun dan
waktu itu aku mulai remaja,
Nenek semakin tua dan mulai
sakit-sakitan, Beliau tidak bisa
berdiri sendiri, kerjanya setiap
hari hanya berbaring di
ranjangnya dan duduk di kursinya
sendiri, itupun aku bantu, karena
kupikir maksud nenek tempo lalu,
Giliran akulah yang harus
menjaga nenek di saat aku
memakai baju pemberiannya.
Semenjak itulah, aku mulai
bekerja untuk menghidupi biaya
kehidupan kami berdua,
walaupun aku harus menjadi Kuli
Bangunan didesa sebelah, tidak
peduli siapapun yang
membutuhkan jasa tenagaku, aku
lakukan demi nenekku tercinta,
Maklum aku ini belum pernah
mengenyam bangku sekolah
seperti anak lainnya, tapi nenekku
dulu setelah pulang dari mencari
kayu bakar, Beliau pernah
mengajarkan aku tentang huruf
dan angka, sehingga ajarannya
begitu berguna untuk diriku
sendiri tentunya.
Ketika aku jatuh cinta pada
seorang gadis di desa sebelah,
Nenek berucap, ”Jangan jauhi
mereka yang menyayangimu
meskipun cinta itu susah ditebak
tapi bijaklah dalam menaruh
rasa.” Aku mengerti apa maksud
perkataan nenek, walaupun gadis
yang ku cintai itu memiliki
seorang kekasih. Kemudian aku
tinggalkan gadis itu dan mencari
yang lain, Celakaa..! Sebelum
seminggu mengunyah rasanya
sakit hati, aku udah jatuh cinta
lagi namun kali ini pada wanita
yang jauh lebih tua dariku,
Memang wanita ini sangat
dewasa sekali dan hal inilah yang
membuat aku suka pada dirinya,
tapi sayangnya wanita ini berkata
jujur kalau dia sudah ada yang
punya, Namun aku bersih keras
untuk bisa memilikinya walaupun
kita berdua tidak sejalan tapi
sehati, Beda ras - beda agama dan
beda kasta tapi sama rasa. atau
istilah kasarnya, ”Selingkuh tanpa
usaha”. Entah mengapa dengan
nasibku ini, dalam kasus cinta,
aku selalu di jadikan yang kedua,
Untungnya nenek
menyemangatiku sembari
berkata,” Cucuku sayang, yang
sabar yah ! Lebih baik menjadi
yang kedua daripada yang
pertama, karena yang kedua, kita
bisa di cintai dan di sayangi apa
adanya daripada yang pertama,
memang kita dicintai dan
disayangi, tapi selalu di khianati
dan di bohongi saja.”
Dimana perkataan nenek inilah
seakan-akan menjadi titik terang
diantara kegelapan, semua yang
dikatakannya bagaikan alur cerita
di awalannya.
Saat aku berusia 20 tahun, nenek
sekarat dan hampir meninggal
yang sebelumnya berkata untuk
yang terakhir kalinya, ”Ikuti
langkah kaki mu, kemanapun
kamu pergi, ikuti kata hatimu,
kemanapun yang kamu suka,
karena kamulah cucu
kebangga'anku satu-satunya yang
aku punya. Hiduplah dengan
damai, jadikanlah segala
sesuatunya menjadi sebuah
pengalaman dan amalkanlah apa
yang kau punya sehingga waktu
itu terus berputar dan memang
kenyataannya itu terus berputar
dan tak akan bisa berhenti disaat
kamu menderita atau bahagia.”
Kembali lagi, aku harus menangis
untuk yang kedua kalinya tapi kali
ini aku menangis karena
kehilangan seorang pahlawan,
Untung saja masih ada seorang
gadis yang mau mengerti dan
memahami akan penderitaanku,
dan gadis itu adalah istriku, yang
dulu pernah menjadikanku
sebagai selingkuhannya, Memang
awalnya kami hidup bahagia tapi
setelah aku memiliki seorang
putri kecil, disitulah letak awal
deritanya.
Pekerjaanku sebagai buruh
tenaga kerja, aku tinggalkan dan
berpaling sebagai petani demi
menghidupi biaya anak-istriku
tercinta, tapi disaat aku di sawah,
putri mungilku diculik oleh
kekasih istriku sendiri, entah
apakah ini dendam pribadi atau
hal yang di senggaja, Aku
berusaha mencarinya tapi tak ku
temukan juga, Setelah perjalanan
pulang mencari putriku, aku dan
istriku menemukan sebuah kertas
yang berisi tulisan kalau aku
harus membunuh kepala desa
dan mengakui perbuatanku
sendiri, Bila ingin putriku selamat.
Aku bingung setengah mati,
seandainya nenek masih ada,
mungkin beliau bisa memecahkan
masalah ini dengan kata-katanya.
”AAAAAHHH... AKU BISA GILAAA...”
Teriakku didepan istriku, namun
istriku hanya bisa menangis saja,
Akhirnya aku teringat kata nenek,
”Ikuti kata hatimu, kemanapun
yang kamu suka,” Dengan
terpaksa aku melakukannya demi
keselamatan putriku sendiri, dan
selesai melakukan itu, aku
mengakui perbuatanku di depan
polisi, sehingga aku masuk
penjara selama 20 tahun lamanya,
Di dalam penjara, aku di siksa dan
di suruh begini dan di suruh
begitu, yang membuatku jadi
tidak betah, ”Dalam pikirku, aku
tak memperdulikan dengan
siksaan pada diriku sendiri,
karena yang terpenting
bagaimana dengan keadaan anak
dan istriku nantinya, apa yang
akan mereka makan dan apa yang
akan mereka lakukan sementara
aku ada di sini, di dalam penjara
sempit ini.
Sekali lagi, aku menangis untuk
yang ketiga kalinya, berharap
tuhan mengutuskan sosok seperti
nenekku agar bisa menjaga anak
dan istriku tapi apalah daya,
tangan tak mampu,
Syukurlahh...!!! Putriku dan istriku
setiap bulan sekali menemuiku di
dalam penjara, dan mereka masih
bisa bertahan hidup dengan
menggarap sawah milik tanah
nenekku.
20 tahun kurang seminggu, masa
hukumanku hampir berakhir, aku
sudah merindukan mereka dan
ketika aku bebas, bukanlah
kebahagiaan yang aku dapat
melainkan sebuah tragedi,
”Istrikku menyusul nenekku.”
Untuk yang keempat kalinya, aku
menangis lagi, aku mulai stres
dengan semua ini, kenapa tuhan
memberikanku waktu yang
singkat antara kerinduan dan
kebahagiaan untukku tapi
memberikan jangka waktu yang
lama untuk penderitaanku. Aku
berusaha tegar, karena
setidaknya aku masih memiliki
seorang putri dan aku harus bisa
menjadi pahlawan baginya,
Hari demi hari aku lalui sendiri
bersama putriku sampai dia
menikah dengan seorang
pemuda kota dan mengajakku
tinggal bersamanya, Namun aku
menolak karena aku ingin
mengenang semuanya ini
bersama pahlawan-pahlawan
hidupku. ”Kalau boleh aku ingin
mati disini, ditempat yang aku
jalani bersama rumah tua tempat
tinggal para pahlawan.”
7 tahun pun berlalu, Aku sendiri
dan sunyi tanpa nenek, istri
maupun putri, walaupun begitu
putriku selalu mengirimkan uang
untuk biaya hidupku,
Ketika malam tiba dan kebetulan
cuaca waktu itu sedang turun
hujan yang cukup deras dan petir
menyambar, ada yang datang
membawa mobil didepan
rumahku dan ternyata itu adalah
putriku dan suaminya beserta
cucu perempuanku,
Kami berkumpul dan sangat
bahagia sekali walaupun cucuku
sangat takut sekali dengan suara
guntur yang menyambar
diangkasa, Namun aku berusaha
menenangkan cucuku sambil
bercerita dengan judul ”NENEKKU
PAHLAWANKU.” berharap cucuku
mempunyai seorang pahlawan
dalam hidupnya dan kelak
menjadi pahlawan untuk cucunya.
Agar cucuku tidak goyah saat ada
tiupan angin lilin ulang tahun
menghembuskannya, Agar
cucuku begitu tegar di saat ayah
dan mamanya pergi
meninggalkannya dan Agar
cucuku begitu kuat di saat ada
semut merah
menjatuhinya
Tag : Kisah
0 Komentar untuk "Kisah mengharukan ”Nenekku pahlawanku..”"

Back To Top